Perlindungan Hewan Yang Dilindungi
MY STORIES
Beberapa cerita fiksi dan esai tulisanku
Caleg, Uang atau Kerabat?
Post : 23 Mar 2014

Kelontong
Post : 13 Jun 2013

Fakir
Post : 19 Mei 2013

Apakah Keadilan Itu?
Post : 19 Mei 2013

MY OPINIONS
Kumpulan catatan kecilku untuk negeri
MY PHOTOS
Galeri Foto-fotoku
Perlindungan Hewan Yang Dilindungi
Pested : 01 Mei 2013 | 18:09:24 , Dibaca 732 kali

 

Mei 2011

 

Chandra wijaya, atlet bulutangkis indonesia itu, senang memelihara berbagai jenis ikan dan burung. Salah satu burung spesial yang ia pelihara adalah berjenis elang bondol. Burung itu telah dirawatnya dengan baik sejak kecil hingga tumbuh besar dan dewasa. Rentang sayapnya mencapai 150 cm saat dikembangkan.

 

Suatu kali ketika ia tidak di rumah, petugas penertiban datang menyita burung kesayangannya itu. Ternyata elang bondol adalah salah satu jenis hewan yang dilindungi oleh pemerintah sehingga dilarang dimiliki oleh warga. Chandra mengaku sedih pada wartawan Bola saat diwawancarai. Burung itu telah dirawatnya sejak kecil. Yang lebih mengecewakan, burung itu diambil saat ia tidak berada di rumah.

 

Di belahan Indonesia lain, tepatnya di Meuraxa, Banda Aceh, Togar seekor orangutan sumatera berusia delapan tahun harus berpisah dengan pemiliknya setelah sekian lama bersama. Di saat-saat terakhir, Kamis 28 April 2011, si pemilik bahkan terlihat mencium tangan Togar sebagai salam perpisahan yang sempat diabadikan oleh media.

 

Ada beberapa jenis satwa yang dilindungi untuk mencegah kepunahan dan memastikan perawatan hewan tersebut baik adanya. Dikhawatirkan apabila tidak dilindungi, bisa memicu perdagangan hewan, animal abuse, yang berujung pada kematian dan menyebabkan berkurangnya populasi.

Yang menjadi pertanyaan besar adalah: Mana yang lebih baik merawat elang gondol tersebut, Chandra Wijaya yg notabene pecinta burung dan berduit cukup itu, atau lembaga pemerintah Indonesia yang ditugasi untuk mengurusnya? Apakah kondisi si Togar, di tempat penangkaran atau bisa jadi di dalam kurungan di sebuah kebun binatang untuk dipertontonkan kepada pengunjung, lebih baik dibanding ketika bersama pemiliknya terdahulu yang mungkin telah menganggapnya sebagai salah satu anggota keluarga? Jawaban saya, tidak yakin! Setelah melihat semua tentang kinerja lembaga pemerintah Indonesia.

 

Andai saja yang menangani hewan-hewan tersebut orang-orang seperti di WWF dan terlihat seperti yang dilakukan petugas perlindungan satwa di Afrika yang sering ditayangkan di National Geographic atau Animal Planet, saya menjadi orang nomor satu yang mendukungnya. Selain berbekal ilmu pengetahuan yang mumpuni di bidang hewan, mereka juga didukung oleh pendanaan dan teknologi yang kuat, serta yang paling penting, ketulusan, kecintaan dan kejujuran.

 

Pikiran saya terus menerawang apakah yang akan dialami oleh si Togar dan puluhan mungkin ratusan hewan bernasib serupa. Sebab telah menjadi pengetahuan umum bahwa prestasi lembaga pemerintah dalam menangani tempat-tempat perlindungan hewan di Indonesia masih tergolong rendah. Lihat saja mayoritas taman margasatwa yang kurang terurus. Ambil contoh kebun binatang Medan yang penghuninya kurang terurus dan kebun binatang Surabaya yang hewan-hewannya diberitakan banyak yang mati. Lihatlah betapa kewalahannya pengelola penangkaran buaya di Asam Kumbang Medan yang kekurangan sokongan dari pemerintah untuk memelihara dan memberi makan buaya-buayanya. Tinjau pulau keberadaan Pulau Komodo yang baru-baru ini diwacanakan untuk dipindah ke Bali dengan alasan mendapatkan pemeliharaan yang lebih baik.

 

Saya berpendapat alangkah lebih bijaksananya menerapkan sistem pengawasan yang ketat terhadap keberadaan hewan-hewan yang dilindungi tersebut. Apabila kehidupannya tidak layak dan terancam, baru diambil alih oleh lembaga yang berwenang. Kenapa tidak membiarkan "orang tua asuh-orang tua asuh" dari masyarakat turut membantu pemerintah melindungi mereka? Bukankah pemerintah memiliki dana dan sumber daya manusia untuk bidang itu terbatas? Tujuannya tetap sama, melindungi dan memastikan kehidupan yang layak bagi hewan-hewan yang dilindungi tersebut.

 

Foto: medanbisnisdaily.com

 
Tulisan terkait
» Sepakbola Indonesia: Berakit-rakit Ke Hulu, Berenang-renang Ke Tepian (291 hits)
» Kebijakan Investasi Terbolak-balik (345 hits)
» Birokrasi Yang Bersih dan Profesional, Titik Tolak Pembangunan (244 hits)