Menjadi Birokrat yang Membangun

Birokrat adalah istilah bagi orang-orang yang bekerja di birokrasi. Sementara birokrasi adalah lembaga pemerintah yang mengurusi administrasi untuk menjalankan roda pemerintahan sekaligus pelayanan publik. Birokrasi berasal dari kata Biro yang berarti Meja (bahasa Perancis: bourrée) dan Kratein yang berarti Pemerintahan lalu digunakan untuk menamai lembaga-lembaga pemerintah dengan orang-orang yang sering bekerja di balik meja. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, birokrat diartikan sebagai orang yang bertindak secara birokratis atau seorang yang menjadi bagian dari birokrasi.

Michael G. Roskin menyebut birokrasi sebagai organisasi berskala besar yang terdiri atas para pejabat yang diangkat, dimana fungsi utamanya adalah untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan yang telah diambil oleh para pengambil keputusan. Dengan demikian sepatutnya dipahami bahwa birokrat adalah orang-orang yang bekerja dibawah arahan para pemimpin pemerintahan untuk menerjemahkan kebijakan dan keputusan mereka.

Namun birokrasi dijalankan diatas rel yang bernama konstitusi dan aturan-aturan lain yang merulakan turunannya. Terdapat standar prosedur yang mengatur meski kreativitas dan inovasi sangat dibutuhkan untuk kinerja yang maksimal sejauh tidak keluar dari rel yang sudah ditetapkan pemerintah melalui persetujuan rakyat.

Karakteristik birokrasi menurut Max Weber adalah:

1. Organisasi yang disusun secara hirarkis
2. Setiap bagian memiliki wilayah khusus
3. Pelayanan publik terdiri atas orang-orang yang diangkat, bukan dipilih, berdasarkan kualifikasi kemampuan, jenjang pendidikan, atau pengujian.
4. Pelayan publik menerima gaji berdasarkan posisi.
5. Pekerjaan merupakan jenjang karir.
6. Para pekerja tidak memiliki kantor mereka.
7. Setiap pekerja dikontrol dan harus disiplin.
8. Promosi didasarkan atas penilaian atasan.

Kenyataan di lapangan memang selalu unik mengingat poin nomor 5 yang sering tidak berjalan ideal bahkan dinafikan untuk posisi Kepala Daerah dan Presiden yang sama sekali terbuka untuk orang dari luar birokrasi. Baiklah, kita parkirkan dulu soal fakta lapangan untuk menjernihkan kepala kita akan hakikat birokrat.

Apakah birokrat harus patuh kepada pimpinan? Ya. Berdasarkan defenisi birokrat dan aturan kepegawaian  yang mengikat, demikianlah hakikatnya. Apakah pemimpin selalu benar? Tidak. Mengingat bahwa pemimpin adalah manusia biasa, sangatlah terbuka kemungkinan pemimpin keliru, apakah dalam kategori lalai atau pun sengaja. Apa barometernya? Tentunya peraturan yang berlaku, mulai dari Undang-undang Dasar 1945 hingga perturan terrendah seperti Surat Keputusan di setiap level hirarki.

Dapat kita simpulkan bahwa birokrat tunduk kepada pimpinan, dan pimpinan tunduk kepada peraturan, dimana peraturan merupakan produk kedaulatan rakyat. Dengan demikian, birokrat sejatinya tunduk pada peraturan (secara tidak langsung kepada rakyat) dan berlaku absolut jika suatu waktu pimpinan mengabaikan peraturan.

Femomena terakhir ini yang sering diperbincangkan dan mendorong reaksi-reaksi kritik bahkan “pemberontakan”. Fenomena pemimpin melanggar aturan banyak ditemui di lapangan sehingga menghasilkan ketidakpercayaan bawahan, masyarakat, hingga melahirkan pemeo dan stigma yang bukan saja terdapat di masyarakat tetapi juga di kalangan birokrat sendiri.

Apakah seluruh birokrat jelek jika birokrasi bobrok? Tidak juga. Selalu ada orang-orang baik yang punya kemampuan kerja di setiap kelompok-kelompok yang dikonotasikan buruk bahkan di dalam gerombolan bandit sekalipun. Orang-orang yang mungkin sangat minoritas ini biasanya terbagi dalam dua golongan. Golongan yang terkesan diam dan menjalankan tugasnya dengan baik dan golongan yang terkesan pemberontak dengan suara-suara kritiknya. Bagaimanakah birokrat yang ideal?

Kembali ke fitrahnya, birokrat adalah orang yang bekerja bagi birokrasi dan digaji oleh organisasi pemerintah. Birokrat haruslah menjalankan visi dan misi organisasi, menerjemahkan kebijakan pimpinan melalui program dan kegiatan. Birokrat adalah bagian dari birokrasi. Tidak bisa diingkari. Berikut ini beberapa iustrasi yang mungkin kita pikir berbeda kasus.

Dalam sebuah kelompok manusia di benua antah berantah terdapatlah kelompok suku Putih dan suku Hitam. Suku Putih mempunyai tradisi tertentu. Demikian pula halnya dengan suku Hitam. Apa yang terjadi jika seorang dari suku Putih ternyata menolak tradisi kelompoknya? Bagaimana jika ia menjelek-jelekkan suku Putih dan mengata-ngatai pemimpinnya?

Bagaimana pula jika seorang umat kepercayaan A ternyata tidak percaya pada ajaran agamanya, lalu menyebarkan penolakan terhadap agamanya dan melecehkan pemimpinnya sementara ia masih tetap menganut agama tersebut?

Lalu apa pandangan kita terhadap seorang pemain klub olahraga X ternyata tidak sepenuh hati mencintai klubnya. Diam-diam ia memfavoritkan klub Y yang notabene adalah rival klub X. Di warung-warung kopi tempat ia biasa nongkrong, ia kerap mengolok-olok klubnya sendiri dan berlagak seakan pendukung klub Y.

Apakah pemimpin suku Putih, ahli agama A, dan manajer klub X malaikat tak bercacat? Kita jawab: Tidak. Apakah seorang dari masing-masing kelompok tidak berhak untuk berbeda pandangan dan keyakinan dengan para pemimpinnya? Kita tahu jawabnya: Berhak. Jika demikian bagaimana harusnya tiap anggota kelompok itu bersikap jika terdapat ketidaksesuaian? Tentu sangat variatif tergantung konteks masalahnya, tetapi secara umum, tugas utama anggota kelompok adalah melaksanakan ritual dan peran yang sudah diatur masing-masing kelompok. Selalu ada mekanisme untuk pelaporan, saran dan musyawarah di setiap kelompok. Jika memang hal yang menjadi perdebatan adalah hal fundamental yang merupakan doktrin, maka tentunya keturunan suku Putih lebih baik keluar dari lingkungannya, anggota agama A keluar dari agamanya dan pemain klub X pindah ke klub Y. Jangan karena alasan nafkah dan hidup ia tetap bertahan di dalam namun menjadi perongrong dan akhirnya memberikan sumbangsih kinerja yang sangat minim. Johannes Cornelis Princen, sang pejuang HAM itu, dianggap pengkhianat oleh Belanda karena ia membelot membela pejuang Indonesia. Kendati demikian, Princen jauh lebih terhormat sebagai manusia dengan memilih keluar dari kesatuannya untuk menuruti suara hatinya.

Trus, apa kaitannya dengan birokrat? Marilah kita sebagai birokrat melaksanakan tugas dan fungsi yang sudah diberikan seiring imbalan gaji dan tunjangan. Marilah kita sekuat-kuatnya bekerja untuk kesuksesan organisasi yang pada akhirnya membangun lingkungan, masyarakat dan negara. Marilah kita maksimalkan peralatan yang ada di tangan. Meski lambat, tetaplah membalik tanah dengan cangkul jika belum diberikan traktor. Buatlah perubahan dan tulislah semangat yang membangun. Menulis yang baik bukan berarti manipulatif tetapi kritik yang disertai solusi dan lebih hebat lagi jika menuliskan ide-ide serta potret keberhasilan kerja kita untuk menjadi inspirasi orang lain.

Ingatlah bahwa kita dibayar oleh pemerintah dengan uang rakyat, bukan untuk berpangku tangan atau mengerjakan urusan lain yang bukan merupakan tupoksi kita, apalagi untuk membangun citra buruk pemerintah dan negara. Akademisi dibayar untuk mengajarkan hal-hal baik kepada muridnya, pelurusan dari penyimpangan yang terjadi adalah bagian dari itu. Anggota parlemen, terlebih yang oposisi dibayar untuk mengontrol eksekutif. Para jurnalis dan pengamat dibayar untuk membantu pemerintah melalui saran dan kritik. Demikianlah setiap peran bekerja sesuai porsinya.

Jika kesan terhadap partai politik cenderung negatif, siapa lagi yang bisa merubahnya jika bukan kader partai tersebut? Jika stigma masyarakat terhadap kepolisian terlanjur jelek, bukankah hanya bisa dirubah dengan pembuktian kinerja polisi sendiri? Saya adalah generasi reformasi yang berdiri di jalan berhari-hari untuk menjatuhkan Soeharto. Saya adalah generasi yang dicekoki kritik dan hujat kepada pemerintah orde baru yang berkuasa. Namun hingga lima presiden berganti, gaya protes yang sama masih ada bahkan masih dilakukan oleh orang yang sama. Saya mendapat pelajaran bahwa jika ingin mengubah keadaan, ubahlah dengan kapasitas yang saya miliki. Setiap pemerintahan ada kelebihan dan kekurangan. Saya belajar mensyukuri pemimpin yang berkuasa dan mencari jawaban dari setiap kekurangan.

Jika kita tidak berkenan dengan sesuatu hal, sampaikan lewat jalur yang benar. Bobroknya birokrasi kita lawan dengan integritas. Citra buruk pemerintah kita balas dengan citra baik pribadi yang walaupun berupa titik-titik cahaya lilin kecil namun jika menyebar akan merubah pandangan orang. Itulah cara berjuang kita. Jadilah birokrat yang membangun birokrasi. Jadilah anak yang berbakti kepada ibu yang melahirkannya. Jadilah kacang yang selalu ingat kulitnya. Jangan sampai terjadi sebaliknya. Birokrat yang kreatif, inovatif dan kritis sangat sangat dibutuhkan di setiap elemen saat ini. Tanpa kreasi dan inovasi maka kinerja birokrasi akan sangat kaku dan ketinggalan jaman. Tanpa pikiran yang kritis maka birokrasi akan terperosok ke jurang penyimpangan yang selalu dibiasakan. Namun KRITIS bukanlah singkatan dari mengKRITIk teruS.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *