Candu

Semua orang tau beratnya mengatasi kecanduan rokok. Kopi dan alkohol juga begitu. Apalagi narkotika. Ampunlah… sakit, menderita, butuh proses panjang, beratlah pokoknya. Kecanduan seks dan pornografi juga sama. Setiap hari tubuh dan pikiran terbawa ke sana, lalu berakhir pada dosa dan penyakit.

Menolak permintaan darah dan otak itu adalah peperangan yang besar yang butuh energi besar pula. Namun kita nyaris lupa bahwa semua kecanduan itu dimulai dari satu perbuatan iseng yang dilakukan secara sukarela. Ingatkah kapan pertama kali kita minum kopi? Mungkin waktu kecil, iseng-iseng pengen tau rasanya, atau sesudah remaja saat duduk di cafe merasakan pendewasaan. Meminun alkohol pertama? Umumnya saat remaja, terpengaruh film dan cerita teman yang bikin penasaran. Masih ingat kapan Anda menghisap rokok pertama Anda? Mungkin juga waktu masih di sekolah dasar, coba-coba sama teman, atau saat remaja dikala sok keren dan kelihatan macho? Kalau narkotika bagaimana? Seks dan pornografi? Coba-coba juga? Iseng? Sukarela?

Tak ada diantaranya yang dimulai karena kebutuhan mendesak. Semuanya dilatih dan diulang, dua, tiga kali hingga ratusan bahkan ribuan kali lalu menjadi kebiasaan yang kemudian berujung pada candu. Jadilah ia seperti anak ular lucu yang kita rawat dan beri makan sampai ia tumbuh besar lalu pada akhirnya mencekik dan melahap kita.

Padamkanlah api saat masih kecil. Ada kalanya tiupan angin dan siraman air tak mampu lagi memadamkannya sebelum semua habis terbakar menyisakan puing-puing kehancuran disaksikan bisu oleh jelaga hitam yang tersisa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *