Ibadah Adalah Tentang Budaya

Mengapa umat manusia melakukan ibadah dan kenapa pula berbeda-beda tatacaranya? Ibadah merupakan bagian dari perilaku sosial.  Ibadah menjadi manifestasi kebutuhan jiwa manusia yang percaya bahwa ada kuasa yang lebih besar yang mengendalikan hidupnya dan seluruh alam semesta. Itulah sebabnya mengapa ritual ibadah sangat terkait dengan tradisi dan kebiasaan di kelompok manusia itu karena diekspresikan dengan apa yang mereka telah ciptakan turun-temurun yang kita sebut budaya.

Di situs Wikipedia disebutkan bahwa Budaya atau kebudayaan berasal dari Bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi, dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan.

Secara umum saya mengartikan budaya sebagai pola hidup yang terdiri dari berbagai unsur yang terbentuk melalui proses perkembangan peradaban manusia dan diturunkan dari generasi ke generasi. Produk-produk kebudayaan itu antara lain seperti bahasa, pakaian, makanan, cara bekerja dan perkakasnya hingga segala jenis seni seperti musik, tarian, lukisan, dan lainnya berikut instrumen atau peralatannya.

Ritual ibadah sendiri dilakukan dengan segala budaya yang dimiliki manusia meski prinsip utamanya diutarakan oleh para nabi yang mendapat wahyu langsung dari Tuhan. Ketika berdoa atau melantunkan puji-pujian maka kelompok manusia itu menggunakan bahasa yang mereka warisi, musik yang mereka ciptakan, pakaian yang mereka desain dan berbagai kebiasaan yang mereka lakukan secara turun-temurun. Itulah mengapa gaya ibadah umat Kristen berbeda dengan Islam, lain lagi dengan Katolik, Budha atau umat Hindu. Karena daerah asal mula agama itu diajarkan berbeda-beda, antara timur tengah, arab, eropa, asia tengah dan asia timur.

Ketika kita membicarakan perbedaan gaya ibadah umat beragama dalam kelompok-kelompok besar di atas tersebut, tak ada yang mempermasalahkannya. Karena kita menganggap memang begitulah idealnya ibadah mereka. Namun menjadi ramai jika kita berbicara tentang cara ibadah dalam satu kelompok homogen. Perbedaan yang terjadi dalam satu agama atau bahkan satu komunitas lebih kecil lagi, seperti gereja, selalu mengundang perdebatan. Seakan-akan ada satu gaya yang lebih benar dari gaya lain. Ada cara yang dianggap salah hanya karena berbeda dengan kebiasaan selama ini. Misalkan saja di satu gereja di Medan, tiba-tiba dilakukan ibadah dengan bahasa dan nuansa arab, bayangkan apa yang akan terjadi. Berandai-andai saja, di dalam peribadatan sebuah komunitas timur tengah diadakan gaya ibadah ala amerika atau dalam ritual kepercayaan yang kental dengan nuansa oriental dilakukan dengan budaya afrika, pasti terjadi kekisruhan. Gaya baru itu serta merta dianggap sebagai penghujatan terhadap agama. Padahal kita lupa, bahwa Tuhan adalah universal. Tuhan bukan milik satu suku bangsa tertentu. Tuhan adalah pencipta seluruh bangsa di dunia sehingga masing-masing bangsa berhak menyembah-Nya dengan budaya yang mereka tahu.

Lalu jika demikian, apakah salah melakukan cara yang berbeda dengan tradisi setempat? Atau sebaliknya, apakah benar jika melakukan hal seperti itu? Kembali pada paragaraf di awal, bahwa ibadah adalah salah satu perilaku sosial yang erat kaitannya dengan budaya. Sejak awal ibadah itu dipraktekkan pasti sesuai dengan budaya setempat. Mengapa? Karena itu perilaku yang membuat mereka mengerti dan merasa nyaman. Bahasa, pakaian, irama dan alat musik seperti itulah yang mereka gunakan sehari-hari. Cara itulah yang mereka gunakan untuk saling berkomunikasi dan menyatakan ekspresi perasaan antar sesama, dengan cara itu pulalah mereka berkomunikasi dengan Tuhan dan menyatakan ekspresinya.

Nah, yang menjadi masalah sebenarnya adalah jika kita memaksakan satu budaya tertentu di tengah budaya lain, katakanlah budaya A, di tengah-tengah kelompok masyarakat yang berbudaya Z. Apakah salah dengan argumen untuk menyembah Tuhan yang satu? Saya berkeyakinan, tidak salah. Tetapi apakah baik? Saya katakan tidak baik jika hal itu mengganggu kenyamanan jemaat setempat dan oleh karena bisik-bisik dan perbincangan, membuat peribadatan saat itu menjadi tidak kusyuk lalu urung menjadi berkat dan tidak bermanfaat bagi iman seluruh peserta ibadah. Padahal tujuan ibadah pada hakikatnya adalah untuk pemenuhan kebutuhan spiritual para pelakunya yang jika dilakukan dengan lebih hikmat dan menyentuh jiwa akan menjadi lebih baik.

Berhentilah beradu argumen tentang benar dan salah, mulailah berpikir tentang layak dan tidak layak, pantas dan tidak pantas, wajar dan tidak wajar, menjadi hal positif atau negatif, bagi orang banyak, ketika melakukan suatu ibadah. Saya ingin menggaris-bawahi bahwa topik yang sedang kita bicarakan di sini adalah tentang tata cara dan gaya ibadah, bukan tentang hal-hal yang menyangkut doktrin kepercayaan. Sebab doktrin kepercayaan tentunya sudah digariskan secara baku oleh pengembang setiap agama. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *