Ujang dan Pemberantasan Tikus

Dengan langkah ragu, Ujang menghampiri gudang, tempat dimana ia harus membongkar dan membersihkannya sesuai permintaan Emak. Fiuhh.. berantakan, tumpang tindih, menggunung, tak tau harus mulai darimana.

“Gudang itu sudah menjadi sumber penyakit, Jang!” kata Emak. “Selain debu dan bau, banyak binatang bersarang di sana, terutama tikus. Bisa bawa penyakit. Nah, sekarang bongkar dan bersihkan lantainya. Emak kasi imbalan buat kamu.”

Ujang pun semangat 98 (semangat 45 kan terlalu jadul, zaman kemerdekaan dari kolonial, kalau 98 kan reformasi, perjuangan kemerdekaan hak-hak sipil juga, jadi lebih updatelah). Ujang semangat karena diberi fasilitas camilan, minuman, lengkap dengan peralatan tempur. Pokoknya semua yang Ujang butuhkan untuk membersihkan gudang, Emak siapkan, diluar iming-iming upah.

Ujang mulai menggeser beberapa barang yang terletak paling luar. Majalah-majalah lama yang menumpuk di dalam sebuah kardus, dikeluarkan. Sekilas Ujang melirik judul-judul artikelnya. Iseng-iseng ia buka halamannya lalu baca-baca. Sepuluh menit terhabiskan dengan majalah-majalah itu baru Ujang melanjutkan tugasnya. Barang-barang pun dikeluarkan satu per satu. Niatnya Ujang untuk mengelompokkan berdasarkan jenis. Namun setiap memindahkan tiap benda, Ujang tertarik untuk memperhatikannya. Benda apa ini, fungsinya apa, kenapa dibuang? Ketemu barang elektronik, ia utak-atik coba menghidupkan. Ketemu kotak-kotak, ia bongkar untuk melihat isinya satu per satu.

Tak terasa baginya, matahari telah beranjak tinggi. Waktu makan siang pun tiba. Emak datang.

“Lha, Jang! Kok kok baru segini?” Emak sedikit kaget melihat gudang belum terbongkar secara signifikan.

“Iya, Mak… Ini juga lagi diberesin. Kan aku pisah-pisahin dulu.” jawab Ujang dengan santai.

“Ya, sudah, sudah. Makan dulu, gih. Sudah siang.”

Setelah satu setengah jam makan siang yang dipaketkan masa istirahat, Ujang kembali ke gudang untuk melanjutkan pembongkaran. Selang berapa lama ia melihat beberapa ekor semut berjalan di lantai. Ujang mengambil sapu dan menyapu semut-semut itu, namun ternyata ada rombongan yang lebih besar datang menyusul. Ujang menyapu lebih banyak sampai akhirnya ia memutuskan untuk pergi mencari obat pemusnah serangga.

Waktu Emak datang memantau, ia heran kenapa Ujang tak ada di gudang.

“Jang! Ujang!” teriak Emak. “Dimana kamu, Jang?”

“Iya, Mak!” terdengar suara Ujang di kejauhan. “Bentar, nih lagi cari anti serangga!”

“Wah… buat apa? Cari dimana? Kayaknya udah abis, tuh.”

“Buat semprot semut, Mak! Ya udah, aku beli aja.” Ujang bergegas keluar menuju warung.

Lima belas menit berlalu. Ujang kembali melanjutkan pekerjaannya setelah mengatasi gerombolan semut dengan semprotan anti serangga. Tak berapa lama ia menemukan pisau belati penuh debu, lengkap dengan sarung kulitnya. Wow, keren nih, ujarnya dalam hati. Dibersihkannya lalu dihunus. Sedikit berkarat, tetapi masih bisa dihilangkan. Ujang lalu pergi mencari cairan penghilang karat di lemari perkakas dan kembali lagi setelah lima menit. Digosokknya belati tempur seperti kepunyaan tentara itu sampai bersih. Sayang, kan? Daripada dibuang mendingan buatku, batinnya.

Peristiwa yang sama kemudian terjadi berulang. Ujang jadi sibuk memilih-milih benda yang masih bisa digunakan. Dibersihkannya lalu dipisahkannya. Lumayan untuk dipakai, paling nggak menambah koleksi, apalagi beberapa benda hampir tergolong antik. Sudah dapat fasilitas, dapat upah, plus barang-barang jadi milik pribadi. Mantap, kan? Gumam Ujang dalam hati. Tak terasa sore pun menghampiri.

Sekitar pukul empat, langkah kaki Emak terdengar mendekat. Ujang cepat-cepat menuju pintu dan berdiri menyambut Emak.

“Mak, barang-barang ini gak dipake lagi kan? Mau dibuang?” Sebelum Emak bersuara, mendingan diomongin duluan, pikir Ujang.

“Iya, buang aja.” jawab Emak.

“Boleh aku ambil beberapa, Mak? Sayang kalo dibuang.”

“Ya udah, ambil aja.” Emak mengintip ke dalam gudang dari sela ketiak Ujang. Alisnya mengekerut.

“Ya, ampun. Kok masih segini? Kapan kelarnya kalo begini, Jang?!” Mata Emak terbelalak.

“Iya, Mak. Ini lagi dikelarin.” Ujang menggaruk-garuk kepala.

“Gak bakalan kelar ini hari kalo begini caranya.” Emak mulai sewot. “Separuh juga belom!”

“Iya, iya, Mak… Aku udah pilah-pilah barangnya. Emang gak bisa sebentar, Mak, ngerjain beginian. Aku juga udah basmi semut tuh, ke sarang-sarangnya.” Ujang membela diri.

“Semut bukan target utamamu, Jang! Tikus yang mau dibasmi. Caranya dengan membongkar semua isi gudang ini! Semut-semut itu juga gak bakalan hilang kalo semua barang ini masih numpuk begini. Di dalam sana pasti masih banyak semut. Aduuh….” Emak merasakan kepalanya mulai berdenyut.

“Iya, iya, Mak. Ini aku lanjutkan lagi.” Ujang bergegas mengangkat barang-barang dan mengeluarkannya dari pintu sehingga otomatis Emak terpaksa mundur untuk memberi jalan dan akhirnya pergi dengan gusar.

Plak! Seekor kecoa penyet di bawah sendal Ujang sejam berikutnya. Rupa-rupanya area kerja Ujang memasuki wilayah kecoa, atau kecoa yang memasuki wilayah kerja Ujang, entahlah, sebab tak lama kemudian seekor kecoa melintas dengan kecepatan penuh lalu menghilang. Ketika kumis kecoa ketiga melambai-lambai di balik sebuah kaleng bekas, Ujang lantas mengambil sapu lidi dan menyatakan perang terhadap kecoa. Ia menyemprotkan anti serangga ke bawah tumpukan barang lalu menanti dengan sabar, menunggu kecoa keluar untuk disambut dengan timpukan sapu.

Peperangan dengan kecoa memakan waktu satu jam lamanya. Kira-kira sepuluh ekor kecoa berhasil ditewaskan. Bosan dengan perang memancing kecoa, Ujang melanjutkan pembongkaran, meski lebih tepatnya cuma menggeser-geser barang sambil mencari benda berharga lainnya, sesekali berhenti membaca buku dan majalah lama.

Hari hampir senja saat tikus pertama terlihat berlari ke balik tumpukan barang. Ujang sempat terkejut dengan kemunculan tikus itu padahal sejak awal sudah disampaikan Emak sebagai target utama dan alasan utama melakukan tugas pembersihan itu. Ujang lalu menyiapkan sapu ijuk di tangan kanan dan semprotan anti serangga di tangan kiri. Standar prosedurnya adalah, semprotan dilakukan untuk mendesak tikus melarikan diri dari persembunyiannya atau tindakan counter pertama bila tikus berlari ke arah kaki, dilanjutkan dengan pukulan sapu untuk melumpuhkan tikus sebagai target operasi.

Seekor tikus pun kemudian muncul dan berlari kencang di sudut ruangan. Dengan sigap Ujang mengejar sambil membantingkan sapunya, namun lolos. Ujang menggeser sebuah barang yang diduga tempat persembunyian tikus, tak diduga si tikus justru berlari ke kaki Ujang. Ujang menjerit spontan sambil meloncat. Si tikus melarikan diri ke arah pintu namun Ujang tak kalah cepat mengayunkan sapunya, paaakk! Tikus menggelepar beberapa detik lalu kemudian diam.

Emak rupa-rupanya mendengar jeritan Ujang.

“Ada apa, Jang?” tanya Emak masuk ke gudang.

“Tikus, Mak. Ini aku tangkap.” Ujang memamerkan prestasinya.

“Nah, itu dia.” kata Emak, “Barang-barang ini sudah jadi sarang tikus, makanya harus dikeluarkan dulu.”

“Iya, Mak.”

“Makanya Emak minta kamu membongkar semua barang-barang ini. Kalau terbongkar dan dibersihkan, kan tidak ada lagi sarang tikus, kecoa, semut, laba-laba dan lain-lain. Trus kalo udah bersih, tikus dan yang lainnya itu gak akan bersarang di situ lagi.” lanjut Emak.

“Iya… Tapi nanti lama-kelamaan kan, tikus dan kecoa kembali lagi sembunyi di situ kalo barang-barang sudah ada.” tukas Ujang.

“Ya, emang. Nanti kalo udah lama, ya bersihkan lagi. Rumah emang harus selalu dibersihkan, Ujang. Cuma kan tikusnya sudah habis dulu. Kalo gak dibersihkan, beranak-pinak, bisa bertambah banyak. Bisa-bisa mewabah. Makanya cepat, bongkar semua gudang ini!” suara Emak akhirnya meninggi pertanda kesal. “Buat apa kamu ngejar-ngejar sebiji kecoa dan tikus itu? Gak ada gunanya! Sampai kapan? Gak nyelesaiin masalah! Semut lagi. Semut itu bukan hama, masih banyak gunanya bagi manusia. Gak perlu kamu matiin! Yang penting itu, kamu bongkar gudang ini trus bersihkan lantainya. Hilang tuh, semua kecoa, tikus, semut, rayap, lipan, kalajengking, apa kek!” Emak berkacak pinggang. “Kamu kok baca-baca majalah, trus sibuk ngumpulin barang-barang itu.” tunjuk Emak pada tumpukan barang yang dipilih-pilih Ujang sedari tadi. “Abis waktu, tau gak? Ini udah hampir malam, kapan kelarnya? Udah sana lanjutkan! Hehh!”  Emak pergi dengan kesal, meninggalkan Ujang dengan tampang terdzolimi lalu perlahan melanjutkan kembali tugasnya.

Maghrib telah lewat. Seekor tikus lain yang lebih besar dari yang sebelumnya, berlari kencang dari balik satu barang ke balik tumpukan barang lain. Dengan marah Ujang menyepak barang-barang dimana si tikus bersembunyi. Barang-barang terlempar berserakan dengan suara berisik. Si tikus pun kembali melakukan sprint ke sudut ruangan. Ujang mengejar sambil menyemprotkan cairan pembasmi serangga disusul gerakan smash, sapu yang di tangan kanannya. Operasi pengejaran tersangka tikus ini pun berlanjut beberapa lama menghasilkan keributan yang sampai ke telinga Emak di ruang tengah.

“UJAAAAAANGGG! PERGI KAMU DARI SITUU! SUDAH! TINGGALKAN GUDANG ITU!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *