Investment Review Kota Medan – Juli 2017

Menjelang berakhirnya bulan Juli, kabar menggembirakan datang dari Fitch Ratings, lembaga pemeringkat internasional yang terkenal “kejam” dalam memberikan penilaian. Fitch mengafirmasi level BBB-/positive outlook atas Sovereign Credit Rating Republik Indonesia yang arti sederhananya adalah bahwa Indonesia berada pada level layak investasi. Beberapa aspek yang menentukan penilaian antara lain beban utang yang relatif rendah, prospek pertumbuhan ekonomi dan eksposur Pemerintah yang terbatas atas risiko sektor perbankan. Peringkat ini jelas akan menambah keyakinan investor dan stakeholder lainnya untuk berusaha di Indonesia.

Berita baik lainnya datang dunia logistik dimana ALFI (Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia) menunjukkan biaya logistik Indonesia yang mulai menurun dibandingkan sejak 2013 lalu meski masih merupakan tertinggi di ASEAN. ALFI menyatakan bahwa penurunan ini merupakan reformasi di bidang logistik sebagai dampak terhadap pembangunan infrastruktur yang membuat pengiriman barang lebih cepat dan efisien, ditambah keputusan pemerintah memangkas aturan-aturan yang menghambat investasi sehingga iklim usaha pun semakin bergairah. Presiden Bank Dunia juga turut menyatakan kepercayaannya terhadap Indonesia dimasa pemerintahan Presiden Joko Widodo setelah melihat berbagai reformasi dan pembangunan infrastruktur yang dikejar, sehingga Bank Dunia berjanji akan mendorong investor masuk ke Indonesia.

Peluang bisnis tersendiri muncul dari statistik naiknya ekspor cangkang sawit ke Jepang. Negeri Matahari Terbit itu tengah giatnya mengembangkan energi baru terbarukan (EBT) yakni energi campuran yang salah satunya menggunakan bioenergi dari cangkang sawit. Selain ekspor cangkang sawit yang cukup menolong menurunnya harga CPO, industri biomassa sendiri bisa menjadi prospek bisnis di masa mendatang yang kelak menjadi kebutuhan penting bagi umat manusia. Sementara peluang bisnis di industri air minum dalam kemasan (AMDK) dikabarkan tertahan akibat pembatalan beleid sumber daya air oleh Mahkamah Konstitusi yang membuat daerah-daerah takut memberikan izin kepada industri AMDK.

Untuk Sumatera Utara, berita 300 investor yang melirik peluang di Sumut dan upaya Menteri Perindustrian untuk menarik investor Korea Selatan ke Sei Mangke menjadi angin segar. Kala pertemuan dengan Gubernur Sumut 5 Juli lalu, Dubes AS menyatakan peluang masuknya 300 perusahaan AS itu ke Sumatera Utara. Sementara Menteri Perindustrian RI, Airlangga Hartanto menyatakan fokus mendorong percepatan pembangunan kawasan industri di luar Jawa, termasuk Sei Mangke, karena merupakan proyek strategis nasional. Dengan demikian para investor, termasuk asal Korsel, dapat lebih cepat masuk dan merealisasikan usahanya.

Khusus Kota Medan sendiri, realisasi investasi asing (PMA) terbanyak sepanjang triwulan II (April РJuni) berada di sektor Perdagangan dan Reparasi. Tercatat 22 proyek terealisasi di sektor tersebut. Namun jika melihat besaran nilai investasi, data dari BKPM RI menunjuk pada sektor Industri Makanan, yakni sebesar 10,1 juta dolar AS. Negara asal PMA yang paling banyak merealisasi proyek  adalah Singapura dengan 41 proyek. Sementara untuk investasi domestik (PMDN), sektor Industri Kimia menjadi sektor terbanyak mencatatkan realisasi dengan 6 proyek dan nilai investasi terbesar berada pada sektor konstruksi senilai 457,3 miliar rupiah.

_______

Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Promosi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *